OJK: Target Penyaluran Kredit 2024 Tumbuh Dua Digit

Jakarta, CNBC Indonesia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan pertumbuhan kredit tahun ini dapat mencapai dua digit. Hal ini berdasarkan rencana bisnis bank (RBB) yang telah masuk. 

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan pendorong pertumbuhan kredit tahun ini adalah sektor rumah tangga, perdangangan, dan industri pengolahan. “Ini sejalan kondisi makro ekonomi dan juga tetap tumbuh stabil sekitar 5% dengan ditopang permintaan konsumen yg masih cukup kuat,” katanya dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Desember 2023, Selasa (9/1/2024).

Dia melanjutkan bahwa pada tahun ini rasio kredit bermasalah (nonperforming loangross 2%–2,5%. Kemudian mengenai likuiditas,  akan terjaga dengan rentang rasio simpanan terhadap kredit (LDR) sebesar 84%–86%.

Bank, kata Dian, juga diperkirakan akan melanjutkan pertumbuhan positif pada kinerja bottom line. Laba bersih bank diproyeksikan naik 9%–10% secara tahunan. 

Adapun pertumbuhan kredit per November 2023 sebesar 9,74% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 6.966 triliun. Berdasarkan kepemilkan, bank BUMN menjadi pendorong pertumbuhan. 

Bank pelat merah mencatat pertumbuhan kredit sebesar 12,13%yoy dengan kontribusi terhadap total kredit industri sebesar 45,81%. Berdasarkan jenisnya, pertumbuhan kredit disokong oleh permintaan kebutuhan modal kerja yang naik 10,14% yoy. Kemudian kredit investasi 9,57% yoy dan kredit konsumsi 9,26% yoy.

Pada periode yang sama, mencatat perlambatan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Per November 2023 DPK hanya tumbuh 3,04% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 8.216 triliun, padahal bulan sebelumnya 3,43% yoy.

Dian mengatakan bahwa perlambatan pertumbuhan DPK karena pertumbuhan DPK yang tinggi saat pandemi dan kemudian saat ini perusahaan menggunakan dana internal untuk ekspansi seiring dengan konsumsi masyarakat yang meningkat.

“Dan dampak banyaknya alternatif instrumen penempatan dana selain DPK,” katanya.

Kendati demikian, Dian mengatakan bahwa likuditas perbankan masih dalam kondisi yang memadai. Rasio alat likuid terhadap noncore deposit (AL/NCD) sebesar 115,73%, turun dibandingkan bulan sebelumnya 117,29%.

Kemudian rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) 26,04%, juga turun dibandingkan bulan sebelumnya 26,36%. https://ditanggung.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*