Pantas Produksi Minyak Makin Jeblok, Investasi 10 Tahun Terakhir Drop!

Jakarta, CNBC Indonesia – Produksi minyak nasional dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Bahkan pada 2023 saja, realisasi produksi minyak siap jual atau lifting masih di bawah target yang ditetapkan dalam APBN.

Praktisi sektor hulu migas Tumbur Parlindungan menilai penurunan produksi minyak yang terus terjadi tak terlepas dari menurunnya investasi dalam waktu 10 tahun belakangan ini. Kondisi tersebut akhirnya berdampak pada produksi yang ada sekarang ini.

“10 tahun terakhir ini investasi oil and gas di Indonesia sangat menurun sekali dibandingkan sebelum sebelumnya, maka dampaknya sekarang kita lihat produksinya nggak bisa dinaikkan kembali karena untuk menaikkan produksi paling utama tuh eksplorasi. Jadi kalau eksplorasi 10 tahun yang lalu ya sekarang mungkin sudah jadi produksi bisa naik,” kata Tumbur dalam acara Energy Corner CNBC Indonesia, Selasa (9/1/2024).

Tumbur memandang sejak harga minyak mengalami penurunan pada 2015 lalu, hampir tidak ada investasi untuk kegiatan eksplorasi. Hal tersebut diperparah dengan adanya perubahan fiscal regime (kemudahan investasi dari segi pajak, pembagian hasil, dan sebagainya), hingga terjadinya pandemi covid-19.

“Akhirnya banyak yang tertunda eksplorasinya, ini mengakibatkan produksi turun. Ini mungkin sampai 5 tahun ke depan akan turun terus kecuali ada masif exploitation sekarang,” katanya.

Sementara, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto menilai alokasi investasi belasan miliar dolar untuk kegiatan hulu migas dalam bentuk kontrak kerja sama cost recovery sejatinya sudah ditetapkan setiap tahunnya oleh Banggar DPR dan pemerintah. Selain itu, penerapan PSC gross split juga berhasil mengumpulkan dana untuk kegiatan eksplorasi hingga US$ 2,5 miliar.

Dengan demikian, Djoko menilai bahwa uang untuk kegiatan eksplorasi di Indonesia sejatinya ada. Namun, untuk menggenjot produksi migas nasional memang tidak bisa jika hanya melakukan kerja dengan pendekatan biasa atau business as usual.

Menurut dia tercapainya target produksi migas tidak terlepas dari 4 faktor. Selain dari business as usual, terdapat faktor lain seperti eksplorasi, reserve to production (RtoP), dan penerapan teknologi enhanced oil recovery (EOR).

Hanya saja saat ini yang baru dimaksimalkan untuk dilakukan adalah business as usual. Sehingga produksi di sumur-sumur yang sudah ada ini cukup sulit terkerek naik.

“Jadi harus paralel ya business as usualwork overwell service, juga eksplorasi. Dana kita sudah siapkan dan setiap tahun juga kita lihat itu belasan miliar dolar itu kemudian di RtoP satu lagi EOR. Jadi tidak hanya 1 eksplorasi saja atau business as usual saja ini nggak akan bisa naik produksinya,” kata Djoko.

Berbeda dengan Arab Saudi, Djoko membeberkan penemuan cadangan minyak melalui kegiatan eksplorasi di Indonesia mempunyai tingkat risiko yang cukup tinggi yakni 1:10. Artinya, profitabilitas untuk menaikan produksi minyak hanya 10%.

“Kalau yakin eksplorasi selalu menemukan minyak semua orang akan ngebor. Karena ini resikonya tinggi penemuan minyaknya juga sangat apa ya. Jadi nggak bisa hanya itu tok. Jadi dana yang ada bisa dibagi,” ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat produksi minyak siap jual atau lifting minyak Indonesia hanya 607 ribu barel per hari (bph) pada 2023. Realisasi tersebut masih jauh dari target yang ditetapkan sebesar 660 ribu bph.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan tak hanya target lifting minyak yang meleset, tapi juga lifting gas yang hanya 964 ribu barel oil equivalent per day (BOEPD) pada 2023. Angka itu di bawah target sebesar 1,1 juta BOEPD.

“Lifting minyak dan gas semua di bawah asumsi 2023 maupun realisasi 2022. Jadi kalau lihat lifting minyak 607 ribu barel lebih rendah dari asumsi 660 ribu bph dan realisasi 612 ribu bph (sepanjang 2022). Lifting gas 964 ribu BOEPD, lebih rendah dari asumsi 1,1 juta BOEPD,” ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita di Gedung Djuanda, Kementerian Keuangan, dikutip Rabu (2/1/2024). https://lokeberhasilan.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*