Bos BMRI Beberkan Strategi Kunci dan Tantangan 2024

JAKARTA, CNBC Indonesia – PT Bank Mandiri per September 2023 menorehkan rekor sebagai bank pertama di Indonesia dengan aset yang tembus Rp 2.000 triliun. Pada bulan kesembilan tahun lalu, emiten bersandi BMRI ini membukukan aset Rp 2.007 triliun atau tumbuh 9,11% secara tahunan (yoy).

Kinerja itu dicapai setelah tiga tahun sebelumnya industri perbankan Indonesia terkena dampak signifikan dari krisis akibat pandemi Covid-19, termasuk Bank Mandiri. Kala itu bank berlogo pita kuning ini melaporkan penyaluran kredit kontraksi 1,68% yoy.

Direktur Utama Darmawan Junaidi mengenang 2020 sebagai periode yang sangat menantang. “Karena kondisi pandemi itu tidak pernah kita alami sebelumnya. Bank Mandiri di akhir 2020 terdampak cukup besar,” katanya dalam program Power Lunch, CNBC Indonesia, Selasa (9/1/2024).

Dia pun menjabarkan sejumlah strategi dia terapkan kala itu untuk menjaga kinerja Bank Mandiri. Hal utama yang dia tekankan kepada jajarannya adalah BMRI merupakan bank yang fokus pada segmen korporasi.

Bank pun fokus pada segmen yang justru mendapatkan berkah dari krisis kala itu, yakni komoditas. Selain itu, bank melakukan pemetaan bisnis per wilayah di Indonesia yang masih memiliki ruang gerak di tengah pembatasan sosial.

Kedua, bank meningkatkan kemampuan layanan digital perusahaan. Selain pembangunan infrastruktur, langkah ini dilakukan dengan mendorong seluruh karyawan Bank Mandiri memiliki visi yang sama tentang digitalisasi.

Strategi tersebut terbukti telah berbuah manis. “2021 kita lihat progress yang sangat baik, 2022 juga lebih baik lagi.,dan alhamdulillah 2023 kita tutup dengan kinerja yang terus membaik,” katanya.

Pada 2021, laba bersih Bank Mandiri tumbuh 27,41% yoy dan setahun setelahnya melesat 46,9% yoy menjadi Rp 41,17 triliun. Kemudian per September 2023 laba bersih bank naik 27,4% yoy menjadi Rp 39,1 triliun.

Strategi Digital

Darmawan mengatakan, meskipun Bank Mandiri fokus pada segmen korporasi, tetapi bukan berarti melepas layanan kepada nasabah lainnya. Hal ini bisa dilakukan dengan kemampuan digital bank yang meningkat signifikan dalam 3 tahun terakhir.

Saat ini, kata Darmawan, hampir seluruh layanan Bank Mandiri dapat dinikmati melalui ponsel. “Kami bukan digital bank, tapi untuk mendapatkan layanan kami tidak perlu datang ke kantor cabang,” katanya.

Menurutnya, satu target transformasi digital BMRI adalah memberikan pengalaman bahwa layanan perbankan bukan sesuatu yang rumit. “Sekarang lebih kepada teknologi, dan itu merupakan bentuk terobosan Mandiri untuk memberikan layanan point of service,” katanya.

Livin’ Around The World, Wujud Komitmen Bank Mandiri Go Global

Terkait hal tersebut, Bank Mandiri pun telah mengurangi banyak kantor cabang. Pada 2020, bank memiliki 2.583 cabang. Saat ini jumlah cabang mandiri 2.206 unit.
Kendati terjadi penurunan kantor cabang yang signifikan, Darmawan memastikan di bawah kepemimpinannya transformasi digital tidak membuat pengurangan karyawan.

“Sebelum transformasi digital kita sudah mempertimbangkan semua talent yang ada tidak tertinggal melalui Strategic Wokrforce Program, jadi tidak ada yg kita layoff,” katanya.

Tantangan 2024

Setelah melewati periode yang penuh tantangan, Bank Mandiri sangat optimistis menyambut 2024. Kendati demikian era suku bunga tinggi pada tahun ini masih akan terasa, setidaknya hingga semester I berakhir.

Darmawan mengatakan, industri perbankan melewati tantangan pada periode 2020-2022 dengan kondisi suku bunga rendah. Memasuki masa pemulihan dari pandemi, suku bunga merangkak naik.

Sepanjang 2023, industri perbankan menghadapi era suku bunga tinggi. ” Tapi kondisi 2024 agak beda. Kalau kita bisa melewati semester I ini dengan baik sesuai dengan rencana, Insya Allah semester 2 akan lebih baik lagi,” katanya.

Adapun dalam skenario stress test Bank Mandiri ada dua hal yang menjadi perhatian pada tahun ini, yaitu harga minyak dan krisis pangan. Bank pun akan melanjutkan pertumbuhan dengan berbekal petunjuk yang telah disusun berdasarkan hasil uji stres berkala tersebut.

“Sektor mana yang harus hati-hati, dan sektor mana yang kalau masih ada pilihan lain, ya kita tidak masuk. Disiplin seperti ini kita harapkan kondisi portofolio mandiri akan terus membaik,” kata Darmawan.

Adapun per September 2023, Bank Mandiri membukukan pertumbuhan kredit sebesar 12,71% yoy menjadi Rp 1.315,92 triliun. Bila dirinci, seluruh segmen kredit Bank Mandiri membukukan kinerja positif. Pertumbuhan tertinggi dicetak oleh segmen komersial, di mana naik 18,55% yoy menjadi Rp 222,3 triliun. Kemudian diikuti oleh SME (small medium enterprise) yang tumbuh 11,73% yoy menjadi Rp 74,16 triliun.

Selaras dengan pertumbuhan kedua segmen tersebut, segmen mikro Bank Mandiri mencetak pertumbuhan 10,09% yoy, menjadi Rp 161,4 triliun. Selanjutnya pada periode yang sama, kredit konsumer mencapai Rp 109,3 triliun, naik 12,04% yoy.

Sementara itu, kredit korporasi Bank Mandiri tetap menjadi tulang punggung perusahaan. Penyaluran ke segmen korporat ini tumbuh 9,55% yoy menjadi Rp 449 triliun.

Adapun pertumbuhan kredit tersebut diiringi dengan kualitas aset yang terjaga. Rasio nonperforming loan (NPL) bank only melandai ke level 1,36% per September 2023. Posisi tersebut jauh lebih baik jika dibandingkan periode September 2022 yang berada pada level 2,26%. https://tipatkaiganteng.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*