Ini Biang Kerok Utama yang Bikin IHSG Berakhir Merana

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambruk pada perdagangan Selasa (8/1/2024), di tengah masih terjadi aksi profit taking investor.

IHSG ditutup ambruk 1,14% ke posisi 7.200,2. Setelah beberapa hari mencetak rekor dan bertahan di level psikologis 7.300, IHSG kembali menyentuh level psikologis 7.200 pada hari ini.

Nilai transaksi IHSG pada hari ini mencapai sekitaran Rp 10 triliun dengan melibatkan 18 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 1,3 juta kali. Sebanyak 193 saham menguat, 337 saham melemah dan 241 saham stagnan.

Secara sektoral, sektor bahan baku menjadi pemberat IHSG di akhir perdagangan hari ini, yakni mencapai 4,29%. Tak hanya bahan baku, sektor infrastruktur juga membebani IHSG sebesar 1,48%.

Selain itu, beberapa saham juga memperberat (laggard) IHSG pada hari ini. Berikut saham-saham yang menjadi laggard IHSG.

EmitenKode SahamIndeks PoinHarga TerakhirPerubahan Harga
Barito Renewables EnergyBREN-52,025.400-20,00%
Chandra Asri PetrochemicalTPIA-33,394.220-20,00%
Barito PacificBRPT-15,471.080-18,18%
Merdeka Copper GoldMDKA-5,582.510-7,38%
Sumber Alfaria TrijayaAMRT-2,792.740-2,14%
Bank Mandiri (Persero)BMRI-2,366.375-0,39%

Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) kembali menjadi saham yang memberatkan IHSG paling besar pada akhir perdagangan hari ini, yakni hingga mencapai 52 indeks poin.

Tak hanya BREN, saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga membebani IHSG masing-masing 33,4 indeks poin dan 15,5 indeks poin. Dengan ini, maka tiga saham Prajogo Pangestu menjadi top laggard IHSG pada hari ini.

Padahal menjelang akhir 2023, saham BREN dan dua saham Prajogo lainnya sempat menjadi top movers IHSG, sehingga IHSG berhasil menyentuh level psikologis 7.200.

IHSG kembali terkoreksi dan bahkan lebih parah koreksinya dari perdagangan kemarin, di mana aksi profit taking investor menjadi salah satu penyebab jatuhnya IHSG pada hari ini.

Hal ini terjadi setelah beberapa hari lalu IHSG berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang masanya dalam dua kali yakni pada Kamis dan Jumat pekan lalu.

Selain karena aksi profit taking, investor juga cenderung wait and see menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) periode Desember 2023 yang akan dirilis pada Kamis pekan ini.

Namun sebelum merilis data inflasi, AS akan merilis terlebih dahulu data neraca perdagangan periode November 2023 pada malam hari ini waktu Indonesia.

Neraca perdagangan AS pada November 2023diproyeksi akan mengalami defisit lebih besar mencapai US$ 65 miliar, dibandingkan defisit bulan sebelumnya sebesar US$ 64,3 miliar.

Walaupun data yang keluar cenderung laggard, akan tetapi proyeksi pelebaran defisit neraca dagang ini menunjukkan semakin terkontraksi-nya perdagangan ekspor dan impor di AS.

Melansir dariTrading Economics, ekspor AS pada November akan menyusut ke US$ 252,8 miliar dibandingkan bulan sebelumnya sebesar US$ 258,8 miliar. Sementara impor akan menyusut jadi US$ 317,6 miliar dibandingkan satu bulan sebelumnya sebesar US$ 323 miliar.

Kemudian pada Kamis mendatang, data inflasi konsumen Negeri Paman Sam periode Desember 2023 akan dirilis. Dalam basis tahunan, konsensus pasar menargetkan inflasi akan tumbuh sebesar 3,2% (yoy), lebih rendah dibandingkan November 2023 yang tumbuh 3,1%.

Sementara itu, untuk inflasi inti AS diperkirakan tumbuh melandai sebesar 3,8% (year-on-year/yoy), dibandingkan sebulan sebelumnya yang tumbuh 4% (yoy).

Data inflasi AS akan dipantau ketat oleh pelaku pasar, karena akan menentukan sikap bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) berikutnya terkait dengan kebijakan suku bunga acuan. https://gimanalagiyakan.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*