Skandal Lagi! 5 Fakta Boeing 737 MAX: dari Jatuh-Dipakai Maskapai RI

Jakarta, CNBC Indonesia – Boeing 737 MAX kembali diterpa persoalan keselamatan. Ini disebabkan insiden meledaknya jendela pesawat bertipe Boeing 737 MAX 9 yang dimiliki Alaska Airlines.

Insiden tersebut membuat badan pesawat robek di sisi kiri saat pesawat naik setelah lepas landas dari Portland, Oregon, Amerika Serikat (AS) dalam perjalanan ke Ontario, California, pada hari Jumat. Alhasil, pilot terpaksa berbalik dan mendarat darurat, dengan seluruh 171 penumpang dan enam awak di dalamnya selamat.

Hal ini pun membuat regulator penerbangan AS (FAA) melarang pesawat Boeing 737 MAX 9 untuk terbang. Ini merupakan larangan terbang kesekian kalinya yang dialami 737 MAX.

Berikut deretan fakta terkait skandal yang meliputi pesawat berbadan sedang Boeing ini sebagaimana dirangkum CNBC Indonesia, Selasa (9/1/2024):

1. Insiden Lion Air JT 610 Jatuh di RI

Pada 2018 lalu sebuah insiden menimpa pesawat Boeing 737 MAX 8 milik Lion Air berkode penerbangan JT610 yang sedang melayani rute Jakarta-Pangkalpinang. Pesawat tersebut jatuh beberapa saat setelah lepas landas di Laut Jawa, menewaskan seluruhnya 181 penumpang dan 8 kru.

Dalam investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), pilot sempat melaporkan adanya gangguan pada kendali pesawat, indikator ketinggian, dan indikator kecepatan. Kerusakan ini terkait dengan maneuvering characteristic augmentation system (MCAS).

MCAS adalah fitur yang baru ada di Boeing 737 MAX 8 untuk memberbaiki karakteristik anggok pesawat pada kondisi flap up, manual flight dan AOA tinggi.

“Proses investigasi menemukan bahwa desain dan sertifikasi fitur ini tidak memadai. Juga pelatihan dan buku panduan untuk pilot tidak memuat informasi terkait MCAS,” terang KNKT.

2. Kecelakaan Naas Ethiopian Airlines ET302 

Lima bulan setelah insiden Lion Air, Boeing 737 MAX 8 juga mengalami kecelakaan fatal pada Maret 2019. Pesawat yang jatuh tersebut diketahui milik Ethiopian Airlines berkode penerbangan ET302 yang terbang dari Addis Ababa menuju Nairobi, Kenya.

Pesawat dengan penerbangan ET 302 itu jatuh di dekat kota Bishoftu, 62 kilometer tenggara Addis Ababa. Pesawat itu diketahui jatuh 6 menit setelah lepas landas, menewaskan seluruh penumpang dan kru yang ada di dalamnya.

Pola kecelakaan ET302 yang mirip dengan JT610 membuat sebagian besar negara dunia akhirnya memutuskan untuk melarang sementara pesawat Boeing 737 MAX untuk terbang, termasuk Indonesia.

3. Desain Kuno

Boeing 737 MAX sendiri merupakan pengembangan dari seri pesawat berbadan sedang jalur tunggal milik Boeing, Boeing 737. Seri ini merupakan salah satu pesawat yang paling laris di pasaran, bersaing ketat dengan Airbus A320.

Desain Boeing 737 sendiri awalnya dirancang pada tahun 1968. Saat itu, model pesawat ini dianggap merupakan nilai tambah karena rendah dan dengan permukaan tanah.

Namun hingga saat ini, saat mencapai seri MAX, desain Boeing 737 masih tetap sama. Pesawat ini masih menggunakan bahasa design rendah, dan pergantian seri dilakukan dengan beberapa tambahan yang minim seperti menambah jarak tempuh dan peletakan sharklet di ujung kanan-kiri sayap pesawat.

“Kompromi yang diperlukan untuk mendorong versi pesawat yang lebih hemat bahan bakar dengan mesin yang lebih besar dan perubahan aerodinamis menghasilkan sistem perangkat lunak kontrol penerbangan yang rumit yang kini sedang diselidiki dalam dua kecelakaan fatal selama lima bulan terakhir,” tulis Los Angeles Times.

Keputusan untuk terus memodernisasi jet tersebut, alih-alih memulai dengan desain yang bersih, justru menimbulkan tantangan teknis yang menciptakan risiko yang tidak terduga.

“Boeing harus duduk diam dan bertanya pada dirinya sendiri berapa lama mereka dapat terus memperbarui pesawat ini,” kata Douglas Moss, seorang instruktur di Program Keselamatan dan Keamanan Penerbangan Viterbi USC yang juga mantan kapten United Airlines.

“Kami sampai pada titik di mana fitur-fitur lama menjadi sebuah hambatan sehingga kami harus beralih ke pesawat yang bersih.”

4. Masalah-Masalah Lain: Baut Kendor-Elektrikal yang Bermasalah

Boeing 737 MAX kemudian diizinkan kembali terbang oleh beberapa negara pada tahun 2021. Meski begitu, masalah masih menerpa burung besi ini.

Pada April 2021, Boeing meminta 16 pelanggannya untuk memeriksa dan memverifikasi apakah ada masalah khusus komponen sistem tenaga listrik di beberapa jet 737 MAX yang terkena dampak dengan nomor ekor tertentu.

Pada Januari 2024 awal, tak lama setelah insiden Alaska Airlines, United Airlines telah menemukan baut yang longgar dan “masalah pemasangan” lainnya pada beberapa pesawat 737 MAX 9.

5. Manipulasi Kebohongan Boeing

Kejaksaan Federal Amerika Serikat (AS) pada September 2021 mempersiapkan dakwaan kepada seorang pilot uji Boeing yang diduga menyesatkan data keselamatan Boeing 737 MAX.

Mengutip AFP, pilot yang bernama Mark Forkner diketahui menahan rincian tentang sistem penanganan penerbangan yang salah yang dikenal sebagai Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver, atau MCAS. MCAS sendiri menjadi pemicu dari dua kecelakaan fatal yang melibatkan model pesawat itu.

“Mark Forkner adalah kontak utama antara raksasa penerbangan dan Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat tentang bagaimana pilot harus dilatih untuk menerbangkan pesawat,” mengutip laporan Wall Street Journal.

6. Digunakan Maskapai RI

Boeing 737 MAX sendiri hingga saat ini juga masih menjadi armada dari maskapai terbesar di Indonesia, Lion Air Group. Dalam situsnya, perusahaan milik Rusdi Kirana ini masih mengoperasikan 10 unit armada 737 MAX 8.

Beberapa armada ini pun digunakan Lion Air untuk mengangkut jamaah umrah dari sejumlah kota di Indonesia yang memiliki bandara yang tidak cukup untuk didarati pesawat berbadan lebar. Sebagian juga digunakan dalam rute ke China. https://zorozuno.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*